Senin, 28 Juni 2021

BAB IV " Riwayat Onderneming Mento Toelakan

 

BAB IV

Riwayat Onderneming Mento Toelakan

 

Sebagian besar lahan perkebunan Mento Toelakan berada di wilayah milik Praja Mangkunegaraan berdasarkan sumber sezaman Mento Toelakan di catat sebagai lahan enclave Praja Mangkunegaraan dimana kawasan ini termasuk wilayah yang dikelilingi oleh wilayah penguasa lokal yang lain seperti Kasunanan Surakarta. Wilayah Minto Toelakan terdiri dari wilayah apanage yan dikelola priyayi Mangkunegaraan namun berapa jumlah tanah pengolah ini belum dapat dipastikan

 

    Beberapa bukti tersebut mengindikasikan jika ia merupakan priayi yang pernah memegang apanage di wilayah Mento Toelakan sehingga ia dikebumikan di sana. Masa awal penyewaan lahan Mento Toelakan belum diketahui secara pasti. Data tertua yang ditemukan menyatakan bahwa perkebunan tersebut sudah beroperasi pada 1863.” Diperkirakan Mento Toelakan sudah disewa sebelum 1863 karena komoditas utama perkebunan tersebut adalah kopi yang membutuhkan waktu beberapa tahun sejak ditanam sampai berbuah, Berdasarkan data tersebut, lahan Mento Toelakan sudah disewakan ketika Mangkunegara IV (1853-1881) berkuasa. Pada masa itu pula Mangkunegara IV memulai kebijakan penarikan apanage. wilayah Mento Toelakan luput dari kebijakan tersebut. 

    Ada beberapa kemungkinan tanah Mento Toelakan bisa disewa oleh pemodal asing saat pemberlakuan kebijakan penarikan apanage. Pertama, Mento Toelakan tetap dikelola oleh narapraja ataupun anggota Legiun Mangkunegaran.  Kedua, lahan Mento Toelakan terlanjur disewakan kepada pengusaha swasta. Mangkunegara IV tidak mau direpotkan dengan perkara hukum yang ruwet (rumit) karena mesti melibatkan Residen Surakarta. Wilayah yang sudah kadung (terlanjur) disewakan tidak bisa ditarik, apalagi yang mendapat perlindungan dari pemerintah colonial Ketiga, lahan Mento Toelakan berada di zona abu-abu antara milik Kasunanan atau Mangkunegaran. Buktinya adalah tugu pal yang masih berada di area perkebunan Mento Toelakan.  Terakhir, penyewa tanah mendapat dukungan dari pejabat kolonial sehingga Mangkunegara IV mesti mengizinkan penyewaan tanah apanage yang berada di wilayah enklaf miliknya. Izin  penyewaan tanah ini dilanjutkan oleh para penerusnya Mangkunegaran pun mendapat penghasilan dari para penyewa tanah.  Di dalam Regerings-Almanak voor Nederlandsch-Indi disebutkan bahwa Mento Toelakan merupakan salah satu perkebunan  orang-orang Eropa di luar kontrak dengan gubernemen. Selama menjadi perkebunan, lahan Mento Toelakan telah mengalami beberapa kali pergantian penyewa. Mereka membudi. dayakan beberapa tanaman komoditas yang dikembangkan di daerah barat laut Wonogiri ini seperti kopi, tembakau, indigo, kapuk, lada dan serat nanas. Selain itu, para penyewa memiliki hak penguasaan wilayah untuk di wilayah konsensinya sesuai peraturan sewa lahan atau konsesi (onderneming).

A. Mencoba Keberuntungan: Perkebunan Kopi di Mento Toelakan (1863-1897)

    Perkebunan Mento Toelakan memiliki luas 1.416,5 bouws atau sekitar 1.048,21 ha. Kawasan perkebunan Mento Toelakan berada di lereng kaki Gunung Lawu dengan ketinggian 600 kaki pada salah satu sisinya. Onderneming Mento Toelakan memiliki karakter tanah lempung merah atau coklat. Namun demikian, kontur dari perkebunan ini tidaklah rata karena terdiri dari lereng dan dataran rendah.'” Berdasarkan kondisi geografis, Mento Toelakan  dianggap cocok untuk ditanami kopi.  Pada tahun 1869 perkebunan Mento Toelakan dilaporkan menghasilkan Tembakau  namun pada tahun 1870 laporan menunjukan Minto Toelakan adalah tanaman kopi Antara 1875 sampai 1876 telah terjadi perubahan  penyewa Onderneming Mento Toelakan. Pengelolaan Perkebunan diambil alih oleh P.W.G. Gout.'Gout merupakan salah satu pengusaha perkebunan kopi kenamaan d Jorstenlanden. Usaha perkebunan Gout rupanya semakin berkembang. ada 1871, Gout memiliki beberapa perkebunan kopi d rea Vorstenlanden, di antaranya Pagerdjoerang, Pakem, Tin, Poeloe, dan Kajoeapak." Pada 1885, P.W.G Gout tercatat sebagai pemilik perkebunan kopi Mento Toelakan, Pakem, Tiris, dan Assemlepie. Penyebab penurunan produksi kopi di Hindia-Belanda pada Wiode itu adalah penyakit karat daun (Hemileia vastatrix).  Dan serangan pantogen menyebabkan kopi jatuh pada periode 1882-1886 hal ini kemudian disiasati oleh Gout dengan tanaman komoditas lain seperti rerumputan dan indigo. Sementara itu, Onderneming Mento Toelakan yang dikuasai oleh pewaris P.W.G. Gout dibeli oleh J.C. Buwalda dengan nilai f 6.540. Seluruh aset perkebunan Mento Toelakan seluas 1416,5 Bau berpindah kepemilikan

                Usaha penanaman tembakau di Mento dibarengi dengan pembangunan gudang. Pada 1889, perkebunan Mento Toelakan dilaporkan memiliki tiga buah gudang tembakau. Laporan in menunjukkan, kawasan perkebunan Mento Toelakan sudah mula mengalami perubahan orientasi tanaman perkebunan dari kopi ks tembakau. Pada 1890, P. Buwalda mulai mengurus perkebunan Mento Toelakan sebagai administrator. Namun, perkebunan masih dimiliki oleh J. C. Buwalda. Baru pada 1893, P. Buwalda tercatat sebagai ondernemer sekaligus administrator — Onderneming Mento Toelakan namun Pada 1895, P. Buwalda tidak bisa mengelola Mento Toelakan sendiri secara langsung karena sibuk mengurus banyak perusahaanerkebunan di Jawa Tengah dan Jawa Timur baik sebagai direktur, omisaris, atau pun administrator. P. Buwalda menunjuk C. F. W.K. Happe sebagai administrator untuk mengatur perkebunan kopi di Mento Toelakan. Happe menjabat sebagai administrator perkebunan Mento Toelakan sampai 1901. Sebelum menduduki kursi administrator Onderneming Mento Toelakan, Happe merupakan pegawai yang bekerja untuk Hijgen de Raadt di Demak. Happe ialah anak F. Happe yang merupakan anggota Raad yan Indie."

B. Masa Transisi: Dari Kopi ke Serat (1897-1910)

    Pada tahun-tahun pertama menjabat, C. Happe tidak banyak melakukan perubahan. Ondernemer Mento Toelakan masih nyamay dengan rimbunnya pohon-pohon kopi.” Akan tetapi, Onderneme Mento Toelakan mulai memikirkan tanaman komoditas lain untuk menggantikan tanaman kopi yang kurang memberi keuntungan Perkebunan mulai membudidayakan tanaman komoditas lain pada 1897. P. Buwalda ingin mencoba tanaman kakao dan tanaman serat ,Kakao dan kapuk menjadi tanaman pendamping kopi. Selain kakao dan kapuk, Happe, selaku administrator melakukan penanaman lada pada sekitar 1899. Rencananya, proyek pengembangan tembakau di Mento Telakan dimulai pada 1 Juni 1898. Pihak perkebunan Mento Tbelikan menawarkan gaji F 100 per bulan dan juga prosentase hasil Moduksi yang akan dinegosiasikan oleh kedua belah pihak,  membudidayakan tembakau di Mento Toelakan diwujudkan pada masa akhir kepemimpinan C. Happe sebagai administrator perkebunan pada 1901.

    Pada masa Onken, pemikiran untuk menjadikan Mento Toelakan sebagai sentra perkebunan serat mulai mengemuka. Kopi dianggap kurang cocok untuk ditanam di wilayah ini. Tanaman serat dinilai tidak membutuhkan banyak air dan bisa tumbuh subur di lahan yang kering. Perawatan tanaman serat juga tidak sesulit kopi. Oleh sebab itu, Onken mulai menguji coba atau beberapa jenis tanaman serat. Kapuk yang sudah dibudidayakan terlebih dulu mulai dimaksimalkan. Serat nanas (Agave sp) mulai ditanam di perkebunan Mento Toelakan. Budidaya kedua jenis serat tersebut mengindikasikan usaha dari pemilik modal dan administrator untuk menggantikan tanaman kopi yang kurang menguntungkan brankas perusahaan. Pembudidayaan kapuk dan penanaman serat nanas menjadi penanda peralihan komoditas utama perkebunan Mento Toelakan. Pada 1905, tanaman kopi yang merupakan komoditas utama digantikan sisal salah satu jenis serat nanas membudidayaan tanaman komoditas  perkebunan Mento Toelakan yang tidak rata, Tanaman koi dibudidayakan di daerah ketinggian, sedangkan untuk dataran rendah litanami Agave sp atau serat nanas

C. Masa Kejayaan: Veret Onderneming Mento Toelakan (19191942)

    Pada periode 1910an, perkebunan Mento Toelakan memasuki babak baru. Tanaman kopi disingkirkan. Lahan seluas seribu hektar dimaksimalkan untuk pembudidayaan serat nanas. Mento Toelakan hanya fokus untuk mengembangkan produksi berbagai jenis serat kwaliteit (kualitas) bagus. Di bawah kendali perusahaan Buwalda, perkebunan ini, menjelma menjadi Vezel Onderneming Mento Toelakan. Vezel Onderneming Mento Toelakan perlu mengembangkan beberapa varietas serat untuk menemukan hasil serat terbaik. Sent: serat tersebut bisa juga dijadikan sebagai bahan campuran olahan serat nanas (Agave sp) yang menjadi tanaman komoditas utama perkebunan ini. Terdapat juga jenis serat yang mendapat grade terbaik pada 1911, yaitu serat nanas dan serat yute jawa." Agar dapat mempertahankan predikat penghasil serat terbaik, perkebunan Mento Toelakan menanam tiga jenis serat nanas atau agave sp Ketiga jenis Agave sp memiliki karakter atau ketahanan dn hasil yang berbeda-beda. Tiga jenis Agave sp yang ditanam di Perkebunan Mento Toelakan di antaranya Agave rigida, Agave cantala dan Agave sisalana. Agave cantala memiliki karakteristik kbih bandel dan berumur panjang, sedangkan Agave sisalana lebih menghasilkan serat.

    Pada 1924, administrator perkebunan berganti. P. W. C. Blankwaardt '” yang memiliki banyak pengalaman dalam kepengurusan perkebunan di Jawa, diangkat sebagai administrator. Blankwaardt merupakan administrator handal. Ia juga memiliki relasi yang luas, apalagi ia merupakan anggota Theosofi sekaligus Freemasonry, dua organisasi yang diikuti tokoh-tokoh besar di Hindia Belanda, Eropa, dan dunia? Relasi yang dimiliki Blankwaardt sangat dibutuhkan untuk mengembangkan roda bisnis Onderneming Mento Toelakan. Kepiawaian Blaankwaard memimpin. Hal ini menyebabkan Minto toelakan ingin merekrutnya, Namun sayang Blankwaardt meninggal sekitar tahun 1930. Berkat Blankwaardt Minto Toelakan mengalami peningkatan popularitas sebagai penghasil serat terbaik. Kemudian posisi Blankwaardt digantikan ole A. Murder setelah kematian Blankwaardt sebagai administrator terakhir sampai perusahaan Onderneming Mento Toelakan jatuh ketangan jepang sekitar tahun 1942 seiring kependudukan Jepang Minto Toelakan mulai ditinggalkan dan menjadi kenangan

 

 

 

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

BAB VI " EPILOG"

       BAB VI " EPILOG"       Abad XIX ditandai dengan perubahan sosial yang terjadi di   wilayah Vorstenlanden Surakarta. Perubah...