BAB VI " EPILOG"
Abad XIX ditandai dengan perubahan sosial yang terjadi di wilayah Vorstenlanden Surakarta. Perubahan sosial ini ditandai dengan persewaan tanah apanage di Vorstenlanden awal abad XIX. Salah seorang pejabat kolonial menjadi pelobi ulung antara pemerintah kolonial, investor Eropa, dengan penguasa lokal. Ia berhasil memengaruhi elit Praja Kejawen untuk mengubah peraturan agraria. Sejak saat itu, semakin banyak pemodal swasta menyewa lahan di wilayah Vorstenlanden. Persewaan tanah di Vorstenlanden dimotivasi oleh empat hal. Pertama, persewaan tanah dimotivasi oleh keinginan pemilik modal untuk memanfaatkan lahan-lahan subur di Vorstenlanden. Kedua, keinginan pejabat kolonial untuk mendapatkan tambahan kekayaan dari persewaan lahan Vorstenlanden. Ketiga, pemerintah kolonial ingin menambah kas yang banyak terkuras akibat perang dan pemberontakan. Keempat, orang-orang Eropa berkepentingan untuk turut andil dalam misi pemberadaban kaum bumiputra yang dianggap masih terbelakang.Seiring dengan reorganisasi agraria, kedudukan pengusaha swasta semakin besar. Ekonomi perkebunan mencengkram kuat kehidupan di wilayah Vorstenlanden. Lahan-lahan Vorstenlander disesaki oleh perkebunan-perkebunan yang dikelola oleh pemodal swasta dan penguasa lokal. Salah satu komoditas yang dibudidaya kan adalah serat alam. Vorstenlanden mengikuti tren penanaman serat di daerah-daerah gubernemen yang sudah lebih dulu membudidayakan kapuk, yute jawa, rosela, serat abaka, serat /lapper, serat aren, serat rami, jerami, dan serat nanas. Jawa pun segera menjadi penghasil serat utama yang mampu memenuhi pasar lokal dan internasional.
Mento Toelakan Desa Wonoharjo. Pemberdayakan hasil-hasil serat alam. Mereka memanfaatkan tanaman serat untuk diproduksi sebagai rami dalam skala kecil sebagai usaha rumahan. Sayang sekali usaha tersebut mengalami kemandegan. Tidak berselang terlampau lama, Desa Wonoharjo kedatangan investor asal Surabaya yang ingin memanfaatkan memori olah serat dihasilkan oleh para petani. Serat rami diolah menjadi karung goni dan tali tambang. Hanya saja, usaha tersebut mulai menurun pad: periode 1990-an. Penyebabnya adalah kemunculan industn bi plastik yang menggusur penggunaan karung goni dan tali tamban Mento Toelakan terus terpuruk akibat relasi antara Mangkunegaran dengan Pemerintah RI kurang harmonis apalagi Republik Indonesia. Apalagi, Pemerintah mengadakan nasionalisai terhadap aset Mangkunegaran. ketika Belanda mencoba mengambil alih Mento Toelakan pada 1948 Kondisi perkebunan sudah terpuruk. Perkebunan tidak bisa Menjual hasil produksi kibat kondisi perang perkebunan asil produksinya akibat kondisi perang. Perkebunan Mento Toelakan yang berada pada titik nadir kala dijarah oleh masyarakat Baik lat-alat produksi pabrik maupun jalur lori dijarah dan dijual. Selepas aksi penjarahan, perkebunan Mento Toelakan tidak lagi beroperasi.
Wilayah Mento Toelakan berubah menjadi Sisa-sisa lahan perkebunan yang lantas dipatok dan dibagi-bagikan kepada masyarakat. Masyarakat yang mengajukan pemetaan dan pembabatan lahan memperoleh hak kepemilikan secara legal oleh pemerintah. Masyarakat tidak lagi membudidayakan serat nanas karena dianggap tidak bisa memberi penghidupan. Mereka menggantinya dengan tanaman-tanaman pertanian seperti padi, singkong, dan jagung. Lahan yang di masa lalu merupakan perkebunan berubah menjadi tanah tegalan. Namun demikian, masih ada upaya dari beberapa petani untuk memanfaatkan tanaman serat peninggalan perkebunan Mento Toelakan. Mereka tampil sebagai pengusaha kecil yang memberdayakan hasil-hasil serat alam. Mereka memanfaatkan tanaman serat untuk produksi rami dalam skala kecil. namun usaha tetap mengalami kemandegan. Tidak berselang lama, Desa Wonoharjo kedatangan investor asal Surabaya yang ingin memanfaatkan memori olah serat. Hanya saja periode 1990 produksi menurun akibat kemunculan bijih plastik kisah kejayaan perkebunan serat berakhir disini sekitar tahun 1996. Mento Toelakan memang meninggalkan kenangan kejayaan peradaban serat. Benar-benar berakhir pada 1996. Mento Toelakan memang hanya meninggalkan kenangan kejayaan peradaban serat. Akan tetapi kisahnya telah memberikanbeberapa dampak penting bagi kehidupan masyarakat yang hidup di are perkebunan. Masyarakat lokal mulai mengenal tanaman serat Agave sp yang berasal dari benua Amerika. Masyarakat memperoleh ilmu budidaya tanaman serat, khususnya serat nanas (Agave sp) yang tahan terhadap iklim kering dan lahan yang kurang subur. Selain itu, masyarakat juga mendapatkan pengetahuan tentang cara pengolahan serat. Purna wicara, narasi historis tentang Mento Toelakan sudah membuktikan bahwa perkebunan serat telah turut andil dalam konomi perkebunan di Hindia Belanda.
Kajian historis ini juga membuktikan bahwa lahan kurang subur pun dapat dieksploitasi melalui penanaman serat nanas. Oleh sebab itu, penelitian ini dapat dijadikan pemantik bagi pengembangan komoditas serat nanas di deerah-daerah yang kurang subur. Apalagi, kebutuhan serat alam di pasar internasional masih tinggi. Dengan demikian, perekonomian Insyarakat yang tinggal di area beriklim kering dan kurang subur untuk tanaman pertanian dapat ditingkatkan.pengolahan serat. Purna wicara, narasi historis tentang Mento Toelakan sudah membuktikan bahwa perkebunan serat telah turut andil dalam konomi perkebunan di Hindia Belanda. Kajian historis ini juga membuktikan bahwa lahan kurang subur pun dapat dieksploitasi melalui penanaman serat nanas. Oleh sebab itu, penelitian ini dapat dijadikan pemantik bagi pengembangan komoditas serat nanas di deerah-daerah yang kurang subur. Apalagi, kebutuhan serat alam di pasar internasional masih tinggi. Dengan demikian, perekonomian masyarakat yang tinggal di area beriklim kering dan kurang subur untuk tanaman pertanian dapat ditingkatkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar